Emas Dunia Makin Menggila, Dipicu Pasar Global Diliputi Ketidakpastian Ekonomi
JAKARTA, ANTARIKSA NEWS – Harga emas global kembali menguat dan bertahan di level tinggi sepanjang pekan ini, seiring derasnya rilis data ekonomi dari negara-negara utama dunia yang memicu ketidakpastian arah perekonomian global.
Berdasarkan data Refinitiv, emas dunia ditutup menguat 0,14% secara harian ke level US$4.337,99 per troy ounce pada perdagangan Jumat (19/12/2025). Posisi ini semakin mendekati rekor tertingginya sepanjang masa di US$4.355,25 per troy ounce.
Secara mingguan, harga emas tercatat naik 0,83%, melanjutkan tren positif dari pekan sebelumnya. Kenaikan tersebut membuat emas bergerak relatif stabil di kisaran US$4.340 per troy ounce menjelang penutupan pekan terakhir perdagangan tahun 2025.
Penguatan emas dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari Amerika Serikat, ketidakjelasan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve, serta meningkatnya sikap hati-hati investor global terhadap prospek ekonomi dunia.
Sentimen pasar turut dipengaruhi oleh langkah Bank of Japan (BoJ) yang mulai menormalisasi kebijakan moneternya dengan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam lebih dari tiga dekade.
Langkah tersebut menandai berakhirnya era likuiditas murah global dan mendorong investor beralih ke aset lindung nilai, termasuk emas.
Sejumlah data ekonomi AS sepanjang pekan ini memperkuat sikap defensif pelaku pasar. Laporan Non-Farm Payrolls Oktober 2025 menunjukkan hilangnya 105.000 lapangan kerja, sementara penambahan tenaga kerja pada November hanya mencapai 64.000 orang.
Di sisi lain, penjualan ritel Oktober tercatat stagnan, menandakan melemahnya daya beli konsumen. Meski inflasi inti November melambat ke level 2,6% secara tahunan, pasar tetap waspada terhadap kualitas data akibat dampak government shutdown sebelumnya.
Meski demikian, harga emas belum melanjutkan reli tajam setelah lonjakan di awal pekan. Hal ini mengindikasikan adanya area resistensi sementara di level saat ini.
Namun, dukungan dari pembelian bank sentral, arus masuk dana ke ETF emas, serta risiko geopolitik global yang masih tinggi membuat harga emas tetap bertahan di zona tinggi.
Ke depan, prospek emas dinilai masih positif. J.P. Morgan Global Research memperkirakan tren kenaikan emas belum berakhir. Kepala Strategi Komoditas Global JP Morgan, Natasha Kaneva, menilai diversifikasi cadangan devisa oleh bank sentral dan investor global akan terus berlanjut.
J.P. Morgan memproyeksikan harga emas berpeluang menembus US$5.000 per troy ounce pada akhir 2026, dengan rata-rata harga kuartal IV-2026 di kisaran US$5.055 per ounce, dan berpotensi meningkat hingga mendekati US$5.400 per ounce pada akhir 2027. (*)

Tinggalkan Balasan