ANTARIKSA NEWS

Melintas Langit, Membawa Insight

Tokoh Adat Tana Luwu Apresiasi Buku ‘Kemuliaan Tana Luwu’, Usul Jadi Referensi di Sekolah-sekolah

Tokoh adat Tana Luwu, Eng. Andi Asrul Nyili Opu To Sau. (ist)

PALOPO, ANTARIKSA NEWS — Buku berjudul Kemuliaan Tana Luwu karya Abidin Arief To Pallawarukka SH, Pemegang Mandat Adat Pancai Pao, mendapat apresiasi tinggi dari tokoh adat Tana Luwu, Eng Andi Asrul Nyili Opu To Sau, yang dikenal luas memahami sejarah adat budaya hingga susunan silsilah Tana Luwu.

Dalam keterangannya kepada wartawan, Opu To Sau, sapaan akrab Andi Asrul Nyili, menilai buku tersebut memiliki makna mendalam dan menjadi pencerahan tentang nilai-nilai luhur Kerajaan Luwu.

“Buku Kemuliaan Tana Luwu sangat bagus pencerahannya. Semua yang dijelaskan memiliki pemaknaan yang sangat berarti dan tepat. Nilai kemuliaan itulah salah satu kebesaran Kerajaan Luwu yang harus dijunjung tinggi sampai akhir hayat,” ujarnya.

Buku Kemuliaan Tana Luwu. (ist)

Menurutnya, buku tersebut tidak menonjolkan sikap akuistik maupun menggambarkan kekuasaan secara monopoli dan sewenang-wenang.

Sebaliknya, buku itu justru memperlihatkan semangat penyatuan kekuatan adat, mulai dari pemangku adat tingkat bawah hingga tingkat atas.

“Itulah sesungguhnya kebesaran Pancai Pao sebagai pengingat masa emas kejayaan Kerajaan Luwu,” katanya.

Opu To Sau juga mengusulkan agar buku tersebut dapat dijadikan referensi dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah se-Tana Luwu, agar generasi muda tidak melupakan sejarah dan falsafah leluhur.

“Agar generasi muda tidak melupakan sejarah dan falsafah nenek moyang kita, maka pemerintah daerah harus mempertimbangkan buku ini menjadi referensi dalam kurikulum muatan lokal tentang kearifan lokal,” tegasnya.

Pemesanan buku bisa PO di sini untuk versi cetak, dan ebook klik di sini untuk harga hemat.

Kegiatan Webinar Adat Budaya yang digelar Pancai Pao dengan tema Ilagaligo, yang disponsori oleh PT Vale Indonesia. (ist)

Sepak Terjang Abidin

Opu To Sau juga menilai Abidin Arief sebagai sosok muda yang mampu menunjukkan kualitas dan kapasitasnya dalam mengemban amanah adat Pancai Pao.

Ia menyinggung sejumlah terobosan yang pernah dilakukan Abidin dalam mengangkat adat dan budaya Tana Luwu, salah satunya melalui webinar I La Galigo bertema adat budaya Tana Luwu sebagai warisan kaum milenial yang digelar di masa pandemi.

Kegiatan tersebut dinilai cukup populer karena melibatkan pemerintah kabupaten dan kota se-Tana Luwu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, hingga para kepala daerah yang hadir sebagai keynote speaker.

“Walaupun di tengah pandemi, itu menjadi kejutan luar biasa. Dia mampu membangun komunikasi dengan pemerintah dan berbagai pihak demi menyelaraskan adat, agama dan negara,” ungkapnya.

Selain dikenal aktif dalam kegiatan adat dan budaya, Abidin juga dinilai memiliki kemampuan komunikasi yang baik serta konsisten dalam sikap dan tindakan.

“Muda namun kompeten, cakap dalam komunikasi dan konsisten dengan satu kata satu perbuatan. Bukan mencari panggung popularitas atau memanfaatkan adat untuk menyerang pihak lain,” lanjutnya.

Namun demikian, Opu To Sau menyebut Abidin tetap memiliki keberanian dan pengetahuan ketika harus melakukan perjuangan untuk kepentingan masyarakat.

Hal itu, kata dia, terlihat saat Abidin mendampingi Senator Andi Abdul Waris Halid sebagai staf khusus yang fokus memantau berbagai persoalan di wilayah Tana Luwu.

Menurutnya, keberadaan Abidin sebagai staf khusus membuat Senator Waris Halid sangat terbantu dalam memantau berbagai persoalan di Tana Luwu.

“Beliau jarang berada langsung di Tana Luwu karena mempercayakan Abidin untuk menyampaikan berbagai persoalan jika memang ada masalah yang harus diteruskan ke pusat,” katanya.

Salah satu kasus yang sempat menjadi perhatian publik yakni persoalan lahan milik warga yang diduga diserobot PT Masmindo.

Kasus tersebut kemudian diangkat hingga menjadi perhatian nasional dan mendapat respons langsung dari Senator Waris Halid.

Namun persoalan itu akhirnya dapat diselesaikan melalui pendekatan komunikasi kekeluargaan antara pihak warga dan perusahaan, sehingga tidak berlanjut ke pembahasan resmi di Badan Akuntabilitas Publik (BAP) DPD RI.

“Abidin mampu mengedukasi agar komunikasi tetap dikedepankan. Akhirnya persoalan selesai dan warga mendapat kompensasi bernilai miliaran rupiah,” jelasnya.

Tak hanya itu, berbagai persoalan lingkungan di perusahaan tambang hingga isu adat juga disebut pernah diangkat Abidin ke tingkat nasional demi mendorong adanya kejelasan dan penyelesaian yang adil.

“Itulah kemampuan Abidin. Bukan menyerang untuk menjadikan korporasi sebagai musuh, tapi murni sebagai pengingat demi kemaslahatan umat,” tutup Opu To Sau.

Ia juga mengungkapkan bahwa perusahaan tambang PT Vale pernah menjadi sponsor dalam kegiatan adat Pancai Pao dan menerima cinderamata adat yang diserahkan langsung oleh Wali Kota Palopo sebagai simbol komitmen menjaga dan menjunjung tinggi nilai adat budaya Tana Luwu.

Kegiatan tersebut turut dihadiri H. Yusri Yunus yang saat itu menjabat Senior Manager External PT Vale dan kini dipercaya sebagai Direktur External perusahaan tersebut.

Di mata tokoh adat, Abidin dikenal sebagai sosok sederhana dalam penampilan, rendah hati dalam berbicara, serta memegang teguh nilai kejujuran.

“Walaupun jaringan komunikasinya sangat baik di lingkup kekuasaan, dia tidak pernah menunjukkan sikap ambisius. Pembawaannya santai, tenang dan selalu happy,” ujar Opu To Sau.

Menurutnya, masyarakat Tana Luwu tidak akan rugi memiliki buku Kemuliaan Tana Luwu jika ingin memahami kebesaran Kerajaan Luwu dan nilai kebangsawanan yang sesungguhnya.

Selain itu, Abidin juga dikenal sebagai salah satu figur adat yang mampu membawa amanah Pancai Pao tanpa merendahkan marwah adat itu sendiri.

Sejarah Pancai Pao

Dalam penjelasannya, Opu To Sau juga menguraikan sejarah Pancai Pao yang disebut memiliki posisi penting dalam struktur adat Kerajaan Luwu pada abad ke-15.

Ia menyebut Pancai pada masa lalu merupakan saudara kandung Raja Luwu yang memiliki tugas sebagai Patunru Lilina Ware Limpona Majang.

“Artinya, seluruh wilayah kekuasaan Raja Luwu menjadi wilayah tugas Pancai Pao untuk mengingatkan bahkan menegur jika ada kekeliruan raja dalam membawa amanah besar bagi kepentingan masyarakat adatnya,” jelasnya.

Menurutnya, dua putra mahkota antara Raja Luwu dan Pancai Pao memiliki komitmen yang sama dalam menjaga amanah, saling menghargai, mengasihi, serta tegas mengedepankan kesejahteraan masyarakat adat dan kemuliaan Tana Luwu.

Atas dasar itulah, sepanjang Abidin muncul sebagai pemegang mandat adat dalam membawa Adat Pancai Pao, Ia mampu menempatkan adat secara bijaksana tanpa menunjukkan keberpihakan di tengah dualisme Datu Luwu.

Demi menjaga harmoni dan komunikasi antara dua figur Datu Luwu, yakni Andi Maradang dan Andi Bau Iwan, Abidin memilih bersikap netral. Sikap tersebut menjadi salah satu cerminan kedewasaan berpikir dan kebijaksanaannya dalam menjaga marwah adat serta persatuan di Tana Luwu.

(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini