•  
Alamat Redaksi : Jl. Kelapa 7 Bandar Jaya Barat - Lampung Tengah, Telp. (HP) 082377881555 / 08996799444, Email redaksi@antariksanews.com.
Jumat, 05 Mei 2017 - 15:32:14 WIB

Romlah Butuh Uluran Tangan Pemeritah Dan Dermawan


Diposting oleh : Administrator
Kategori: Lampung Tengah - Dibaca: 21 kali

MEDIALAMTENG.COM--- Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak (nasib seseorang tak dapat diubah sebelumnya karena sudah menjadi rahasia Allah).  Hidup dalam kemiskinan dan berjuang menafkahi satu anak itulah yang dilakukan Romlah (60 tahun) warga Kelurahan Komring Agung lingkungan  satu RT 003/RW 001 Kecamatan Gunung Sugih Kabupaten Lampung Tengah.

 Sejak ditinggal suaminya dua tahun silam, janda satu anak ini membanting tulang untuk menafkahi anaknya. Segala pekerjaan pun dilakoninya dari mencari rongsokan hingga buruh tani upahan (tukang ngoret), dengan bayaranRp50.000 ribu dari berangkat pagi hingga sore hari demi mencari sesuap nasi. Itu pun kalau ada yang membutuhkan tenaganya.

"Saya menepati rumah ini dulu bersama suami saya Amat Rohani, tapi umur memisahkan kami. Dua tahun yang lalu suami saya meninggal dunia karena sakit. Sekarang tinggal saya dengan anak, untuk mencukupi kebutuhan sehari hari saya mengandalkan kerja upahan ngoret diladang warga, dari pagi sampe sore dengan bayaran RP 50.000. Kalaupun itu ada yang memerlukan tenaga saya, kalau enggak ada saya mencari rongsokan,” ungkapnya.

Hidup dalam kemiskinan serta paspasan bersama seorang putrinya Meliya Sari (13 tahun) ibu romlah menempati rumah geribik berukuran 4x5M bertembokan gedek  berlantaikan tanah dengan atap genteng yang terkadang kali sering bocor jika diguyur hujan, membuat penderitaan perempuan paruh baya ini sangat memperihatinkan. Dilihat dari sarana MCK  belum ada dan didalam rumah sangat pengab. Sangat jauh dari kata layak untuk di jadikan rumah tinggal.

 “Dulu dari aparat kelurahan pernah datang kerumah minta data dan photo rumah, katanya ada program bedah rumah, namun sampai sekarang  tidak terlaksana. Saya dengar dari omongan tetangga dikarnakan tempat berdirinya gubuk saya ini numpang tanah orang. Sehingga tidak bisa direhab. Saya sedih sekali pak, inilah nasib orang miskin. Saya berharap kepada pemerintah bisa memperhatikan nasib orang pinggiran seperti saya ini," ujarnya.

Sambil berlinang air mata ibu Romlah menuturkan kesulitan hidupnya. Sebab, anaknya yang kini menginjak pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) hanya bisa berharap mampu mengejar cita - citanya menjadi seorang dokter. Janda paruh baya ini berharap ada uluran tangan dari dermawan atau pemrintah setempat untuk membantu meringankan beban penderitaannya.

Saat ditanyakan apakah ibu selama ini sudah pernah mendapatakan bantuan dari pemerintah? Romlah mengiyakan. 

Romlah pun tidak menampik bahwasanya mendapatkan bantuan dari Program Keluarga Harapan (PKH). " Saya mendapatkan bantuan PKH  sebesar Rp 150.000 yang ngambilnya di Kantor Pos Gunung Sugih, tapi  yang saya terima hanya RP112.000 aja," ungkpanya dengan polos.

Tambahnya, namun sudah hampir enam bulan ini dana itu belum keluar, entah kenapa ya pak, saya nunggu-nunggu benar dana trsebut, untuk biaya anak sekolah.

Kondisi ini tentu bukan bukti kalau pemerintah tidak melakukan apapun, tetapi yang pasti pihak pemerintah dinilai kurang tanggap atau memang tutup mata dengan kondisi yang terjadi, banyak faktornya mungkin masyarakat disekitarnya tidak lapor kepada pemerintah, atau pemerintahnya yang lamban dan malas, ketika diberikan laporan namun tidak berbuat, padahal sesuai amanat UUD bahwa orang miskin dan anak terlantar memjadi tanggung jawab Pemerintah Negara, dimana pemerintah daerah menjadi perpanjangan tanggan untuk merealisasikan kewajibannya. Serta mampu memberi solusi untuk setiap permasalahan terutama tentang kemiskinan. (Eka)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



0 Komentar :



Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)